Sepanjang 2018, Komite Fact Checker MAFINDO telah melakukan klarifikasi atau debunking terhadap 997 hoaks yang beredar di tengah masyarakat. Dari 997 total hoaks, 488 di antaranya adalah hoaks bertema politik (49,94%). Hoaks politik memang mendominasi sepanjang bulan di tahun 2018. Berikut adalah laporan pemetaan hoaks politik tahun 2018. Pemetaan dilakukan selama 6 bulan terakhir, mengikuti momen pengundian nomor capres di bulan 2018.
Perlu disampaikan, angka ini bukan menjelaskan banyaknya jumlah hoaks politik yang beredar di tengah masyarakat, namun item hoaks politik yang diterima Komite Fact Checker MAFINDO baik berasal dari laporan publik maupun hasil pindaian anggota MAFINDO. Jumlah hoaks di tengah publik dengan menggunakan berbagai saluran tentunya jauh lebih banyak dan lebih masif tersebar luas.

Grafik 1 memperlihatkan hoaks politik selama setiap bulan dalam tahun 2018. Bulan April (61) dan bulan September (69) mencatat rekor hoaks politik. Pemetaan hoaks politik selanjutnya akan dilakukan berdasarkan sasaran target dan tema hoaks politik. Kali ini, mapping tidak dilakukan selama setahun, tetapi merekam dinamika hoaks politik selama 6 (enam) bulan terakhir di tahun 2018, jumlahnya mencapai 259 hoaks. Pemilihan waktu ini disesuaikan dengan masa-masa menjelang pemungutan suara dalam Pemilu 2019, di mana kampanye dilaksanakan semakin intens, dan hoaks politik diperkirakan semakin banyak. Terlihat bahwa pada bulan September, hoaks politik memuncak mencapai 69. Peristiwa yang terjadi pada saat itu adalah pengundian nomor urut capres.
Siapa yang menjadi target hoaks politik selama enam bulan terakhir di tahun 2018? Terdapat enam pihak yang teridentifikasi secara general berdasarkan mapping ini, yaitu: (1) Capres 1; (2) Capres 2, (3) pemerintah pusat; (4) pemerintah daerah ( local government ); (5) partai politik; dan (6) tokoh-tokoh tertentu ( significant person ).
Dari ke-6 pihak tersebut, hoaks politik paling banyak menimpa Capres 1, (75 hoaks politik, 28,96%), pemerintah pusat (60 hoaks politik, 23,16%), s ignificant persons (57 hoaks politik, 22,01%), Capres 2 (54 hoaks politik, 20,85%), partai politik (9 hoaks politik, 3,48%) dan pemerintah daerah (4 hoaks politik, 1,54%). Dinamika target hoaks politik selama 6 bulan terakhir dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Pada bulan September, hoaks terhadap Capres 1 memuncak dengan jumlah 31. Sementara pada bulan Oktober 2018, hoaks terhadap pemerintah pusat memuncak mengalahkan hoaks terhadap pihak lainnya. Jumlahnya mencapai 23. Contoh hoaks pemerintah adalah seputar pembangunan infrastruktur mulai dari Jalan Tol, sampai pemulihan bencana dan pencairan bantuan perumahan dalam Gempa Lombok dan Gempa Palu – Donggala. Bulan Oktober juga ditandai dengan pembakaran bendera Tauhid—peristiwa ini memicu munculnya hoaks politik di samping hoaks bertema agama. Hoaks terhadap significant persons tampak jumlahnya meningkat di bulan Juli dan Agustus 2018. Significant persons yang menjadi sasaran hoaks merentang mulai dari tokoh dunia seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, atau public figure lokal seperti band Gigi atau Ari Lasso yang disebut-sebut mendukung capres tertentu.
Hoaks politik bisa mengambil isu apa saja. Mulai dari isu kesehatan, isu agama, isu etnis, dan lain-lain. Hoaks dengan muatan isu tersebut dikategorikan sebagai hoaks politik begitu disinformasi pada hoaks-hoaks tersebut diframing , disimpulkan, atau ‘dibungkus’ sebagai permasalahan politik. Berikut adalah tema-tema spesifik hoaks politik yang muncul sepanjang pemetaan berlangsung.

Tentu saja, tema politik menjadi muatan utama hoaks politik, yang paling memuncak di bulan September 2018 (38 hoaks politik). Isu hoaks politik yang diangkat sebagian masih mengulang narasi lama seputar Capres 1 (dan pendukungnya), mulai dari Jokowi yang tidak membolehkan azan (10 September 2018), Jokowi yang memberi tempat bagi tentara Cina (18 September 2018) dan spanduk hate speech yang dipasang cebong (20 September 2018). Hoaks terhadap Capres 2 yang muncul di antaranya Prabowo yang berhutang 17 Trilyun (20 September 2018) dan Meme Sandiaga Uno (22 September 2018). Hoaks politik dengan tema agama paling banyak ditemukan pada bulan September dan Oktober. Jika bulan September ditandai dengan pengundian nomor urut presiden, maka bulan Oktober diwarnai dengan peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid sehingga memberi amunisi pada hoaks politik bertema agama. Salah satu hoaks politik bertema agama dan menyeret-nyeret tokoh dunia berjudul “Bendera Tauhid Dibakar di Indonesia, Erdogan Lalu Menangis dan Berpesan Seperti Ini” (23 September 2018).
Secara menyeluruh, dalam peta hoaks politik sepanjang Juli – Desember 2018 yang berjumlah 259 item , Capres 1 mendapatkan hoaks lebih dari dua kali lipat dibandingkan hoaks terhadap Capres 2. Pasangan Jokowi – Amin Maruf mendapatkan 165 hoaks politik (63,70%), sementara Capres 2 Prabowo – Sandiago Uno mendapatkan 70 hoaks politik (27,03%). Sisanya yaitu 24 hoaks (9,27%) kendati tetap merupakan hoaks politik, namun tidak terkait dengan Capres 1 maupun Capres 2.
Demikianlah dinamika isu hoaks politik berdasarkan kajian pemetaan hoaks politik MAFINDO sepanjang 2018.
Dikeluarkan oleh Tim Mapping Hoaks Komite Litbang MAFINDO Kontak: komitelitbang@gmail.com
sungguh ber motivasi sekali artikelnya ini makasih ya